Ketika kita dapat merasakan semua perasaan yang diciptakan Tuhan. Ketika kita dapat melakukan segala hal tanpa mencemaskan hal-hal yang berarti. Sedih, senang, kecewa, tertawa, menangis, berlari, berteriak, makan, berguling, bernyanyi, bermain bola, memasak, bercengkrama, dan lain sebagainya.
Lalu mereka? Mereka? Pengidap AIDS.
Aku ga tahu berapa jumlah pasti para pengidap HIV/AIDS -ODHA. Yang aku tahu mereka banyak. Menyebar. Yang aku tahu mereka bahagia, pada awalnya. Pada akhirnya, entahlah. Itu salah mereka.
Yang aku maksudkan bukanlah ODHA, tapi ADHA.
Anak Dengan HIV AIDS
Miris.
Sedikit cerita, sekitar 2 bulan lalu aku bersama yang lain mengunjungi sebuah poli di salah satu rumah sakit Surabaya. Sebuah poli yang (memang) pada saat itu mengadakan pertemuan rutin sebulan sekali. Selain menjalin silaturahmi, sepertinya sedang diadakan pula pemeriksaan pada ADHA dan pemberian obat secara gratis.
Yang aku bayangkan pada saat itu adalah anak-anak berusia SD. Bahagia bergelayutan di pundak ini. Tapi seluruh bayanganku salah. SALAH.
Ketika sampai di poli tersebut, aku berhenti sejenak. Memandang mereka satu per satu. Apa yang salah? Tidak ada. Mereka anak-anak kecil biasa. Manja, ceria, bahkan ketika melihat kami mereka sedikit takut mungkin karena kami asing. Usia mereka mungkin masih yaahh, balita. Aku menyapa mereka dengan ramah. Memastikan bahwa kami bukanlah manusia yang tiba-tiba berubah menjadi monster yang akan memakan mereka sehingga mereka hilang dan......
Akankah masyarakat biasa menyadari bahwa mereka sedang sakit? Sehat dalam sakit.
Riskan. Sekejap saja, kata "mati" megalami penyempitan makna. Tabu. Menjadi sebuah kata yang haram untuk diucapkan. Mereka tidak tahu apa itu "mati". Mereka tidak tahu bahwa mungkin saja besok akan "mati". Mereka tidak tahu ketika mereka sakit sedikit saja, mereka akan "mati".
"mati"
Datanglah seorang ibu muda menggendong seorang bayi mungil. Aku bertanya berapa usia bayi tersebut. 2 bulan. Ibu itu menjawab. Aku bertanya untuk kesekian kali. Ibu itu menjawab, "Mamanya sudah meninggal, Tante".
Tuhan, haruskah kau beri cobaan pada anak-anak manis ini? Penerus bangsa kami?
Bukan, bukan salah mereka. Sungguh aku tidak merasa jijik bahkan beberapa kali aku memeluk mereka, merengkuh dalam pelukan hangat yang suatu saat nanti dapat mereka kenang, menggendongnya. Aku ingat terakhir setelah acara selesai. Kami foto bersama. Salah seorang anak tidak ingin foto. Ia ingin digendong neneknya. Oke, aku mencpba menggendongnya dan dalam sekali waktu dia mau. Lucu sekali.
Bukan, bukan salah mereka. Dimana pikiran orang tua mereka saat itu? Bagaimana bisa otak mereka tidak bisa berjalan di waktu yang bersamaan? Apakah mereka bodoh? Apakah mereka tidak tahu bahaya yang mereka lakukan? Apakah mereka sudah bisa dikatakan manusia modern? PUASKAH kalian jadi manusia modern?
Ini semua salah kalian. Bukan salah mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar