Selasa, 29 Desember 2015

Should i become the other one?

Serem.
Banget.

Takut
Gemetar
Sempat menggigil
Entah apa aku ini sudah mengalami gangguan jiwa akut

Tidak. Aku tidak sakit. Aku baik-baik saja
Oke. Secara fisik.
Psikologi? Entahlah.

Hanya saja aku tak tahu harus berbuat apa. Aku merasa bahwa.............. ya. Ternyata begini.
Aku sempat pergi. Sejenak. Tidak jauh.
Menenangkan diri.
Tidak, tidak. Aku tidak berlari dari kenyataan. Aku akan bertanggung jawab
Tapi biarkan aku menenangkan pikiran sebelum kuhabiskan seluruh tenagaku setahun ke depan.

Kepercayaan pada seseorang? Hahaha sudahlah. Aku tidak percaya siapapun.
Aku berusaha percaya dan nyatanya? Sama saja.

Mendengar apa yang dikatakan seseorang tentang orang lain. Menyimak. Memerhatikan.
Lucu.
Ternyata sama saja.
Kau dan mereka.
Sama saja.

Rabu, 03 September 2014

ketika itu bukan salah mereka

Ketika kita dapat merasakan semua perasaan yang diciptakan Tuhan. Ketika kita dapat melakukan segala hal tanpa mencemaskan hal-hal yang berarti. Sedih, senang, kecewa, tertawa, menangis, berlari, berteriak, makan, berguling, bernyanyi, bermain bola, memasak, bercengkrama, dan lain sebagainya.

Lalu mereka? Mereka? Pengidap AIDS.

Aku ga tahu berapa jumlah pasti para pengidap HIV/AIDS -ODHA. Yang aku tahu mereka banyak. Menyebar. Yang aku tahu mereka bahagia, pada awalnya. Pada akhirnya, entahlah. Itu salah mereka.

Yang aku maksudkan bukanlah ODHA, tapi ADHA.

Anak Dengan HIV AIDS

Miris.

Sedikit cerita, sekitar 2 bulan lalu aku bersama yang lain mengunjungi sebuah poli di salah satu rumah sakit Surabaya. Sebuah poli yang (memang) pada saat itu mengadakan pertemuan rutin sebulan sekali. Selain menjalin silaturahmi, sepertinya sedang diadakan pula pemeriksaan pada ADHA dan pemberian obat secara gratis.

Yang aku bayangkan pada saat itu adalah anak-anak berusia SD. Bahagia bergelayutan di pundak ini. Tapi seluruh bayanganku salah. SALAH.

Ketika sampai di poli tersebut, aku berhenti sejenak. Memandang mereka satu per satu. Apa yang salah? Tidak ada. Mereka anak-anak kecil biasa. Manja, ceria, bahkan ketika melihat kami mereka sedikit takut mungkin karena kami asing. Usia mereka mungkin masih yaahh, balita. Aku menyapa mereka dengan ramah. Memastikan bahwa kami bukanlah manusia yang tiba-tiba berubah menjadi monster yang akan memakan mereka sehingga mereka hilang dan......

Akankah masyarakat biasa menyadari bahwa mereka sedang sakit? Sehat dalam sakit.

Riskan. Sekejap saja, kata "mati" megalami penyempitan makna. Tabu. Menjadi sebuah kata yang haram untuk diucapkan. Mereka tidak tahu apa itu "mati". Mereka tidak tahu bahwa mungkin saja besok akan "mati". Mereka tidak tahu ketika mereka sakit sedikit saja, mereka akan "mati".

"mati"

Datanglah seorang ibu muda menggendong seorang bayi mungil. Aku bertanya berapa usia bayi tersebut. 2 bulan. Ibu itu menjawab. Aku bertanya untuk kesekian kali. Ibu itu menjawab, "Mamanya sudah meninggal, Tante".

Tuhan, haruskah kau beri cobaan pada anak-anak manis ini? Penerus bangsa kami?

Bukan, bukan salah mereka. Sungguh aku tidak merasa jijik bahkan beberapa kali aku memeluk mereka, merengkuh dalam pelukan hangat yang suatu saat nanti dapat mereka kenang, menggendongnya. Aku ingat terakhir setelah acara selesai. Kami foto bersama. Salah seorang anak tidak ingin foto. Ia ingin digendong neneknya. Oke, aku mencpba menggendongnya dan dalam sekali waktu dia mau. Lucu sekali.

Bukan, bukan salah mereka. Dimana pikiran orang tua mereka saat itu? Bagaimana bisa otak mereka tidak bisa berjalan di waktu yang bersamaan? Apakah mereka bodoh? Apakah mereka tidak tahu bahaya yang mereka lakukan? Apakah mereka sudah bisa dikatakan manusia modern? PUASKAH kalian jadi manusia modern?

Ini semua salah kalian. Bukan salah mereka.

DON'T DISTURB MY SUNDAY

yaa don't you disturb my Sunday. mau Sunday diminggu ke-berapa aja tetep jangan di-disturb.

kapan lagi kalau ga hari Minggu aku bisa ngumpul sama keluarga?
kapan lagi kalau ga hari Minggu aku bisa mainan sama temen?
kapan lagi kalau ga hari Minggu aku bisa lari bebas di tengah jalan?
kapan lagi kalau ga hari Minggu aku bisa nyuci baju sebanyak tukang laundry?
kapan lagi kalau ga hari Minggu aku bisa beli lumpia seharga 2.500?
kapan lagi kalau ga hari Minggu aku bisa ketemu cokelat anget?
kapan lagi kalau ga hari Minggu aku bisa masak?
kapan lagi kalau ga hari Minggu aku bisa nonton travelezza?
kapan lagi kalau ga hari Minggu aku bisa liat gantengnya Vicky Nitinegoro di My Trip My Adventure?
kapan lagi kalau ga hari Minggu aku bisa liatin ibuku tidur pules banget?
kapan lagi kalau ga hari Minggu aku bisa pergi-pergi ke pantai?
kapan lagi kalau ga hari Minggu aku bisa bangun agak siangan dari biasanya?
kapan lagi kalau ga hari Minggu aku bisa nonton film di laptop sepuasnya?
kapan lagi kalau ga hari Minggu aku bisa ngemil bareng sama es buah Bandung?

MASIH TEGA MAU GANGGUIN????


TAPI....... semua "kapan lagi" seperti yang tercantum di atas GA BERLAKU ketika ada jarkom dari kampus yang ngajakin BAKTI SOSIAL. atau semua yang berurusan dengan sosial-sosial gitu deh.....

mau ngajak sampe malem, sampe subuh pun jalaaaannnn

Kamis, 07 Agustus 2014

Spesies Manusia

Nyata
Manusia sudah beda
Manusia punya spesies
Yang gue tahu, manusia itu 2 jenis dalam 1 spesies
Laki-laki dan perempuan
Mereka ditakdirkan untuk menjalin suatu hubungan yang nantinya akan memperbanyak spesies
Spesies dengan beda gen
Bermacam-macam, lestari

So, Gimana sama yang lelaki yang melambai?
wanita yang tampan?

Gue ngepost karena gue lihat spesies manusia baru. Waktu itu gue jalan sama sepupu gue di mall deket rumah. Ceritanya gue cuma numpang beli makanan sama jajan bentar. Di situlah gue nemu spesies yang emang sengaja ga gue pungut. Sebenernya ga terlalu kaget lihat spesies baru. Ya, di sekitar gue ada yang kaya gitu. Kaget di awal sih, sempet geli dan yaaahhh tau lah respon masyarakat umum sama hal yang sedikit menyimpang. Lama-lama akhirnya gue acuhin. Itu idup lo. Gue pengen ngingetin mereka, tapi pasti mereka bilang "sapa elo?". Gue urungkan niat gue.

Sedikit menghembuskan napas panjang dan kuat ketika spesies itu menggandakan diri. That's rite! Ini penyakit. Menular. Tercengang saat seorang wanita menggandeng pasangannya mesra. Iri karena jarang banget gue mesra-mesraan sama pacar gue. Gue coba lihat muka tuh cowo. Eh cewe. Ga cukup satu yang gue lihat. Banyak. Buanyak. Buanyak bangeeetttt. Salah satu yang bikin kaget adalah salah satunya menggunakan jilbab. Oke, oke jilbab itu wajib. Kelakuan tergantung pengguna.

Gue inget banget pas SMA disuruh pake jilbab sama guru agama. Beliau bilang bahwa jilbab itu bukan menungggu kita siap. Tapi jilbab yang menyiapkan kita. Jilbab akan membatasi gerak kita yang terlalu bebas. Jilbab yang mengingatkan kita untuk tidak melakukan hal yang dibenci Tuhan, Allah.

Ya. Jilbab.

Kalau Gengsi Bilang Cinta

          Keramaian masih menyelimuti jalanan hingga saat ini. Lampu kuning menyinari setiap sudut kota yang hampir tertutup oleh gelap. Sesekali angin berhembus menggoyangkan lembar daun. Membelai rambut lurus sebahu milik Nana. Tangannya berusaha menutupi poni yang terbelah menjadi dua. Ia mempercepat langkahnya menuju restoran tempat Nana dan Tian -kekasihnya- bertemu. Sampai di lokasi, Nana merapikan diri. Ia melihat ke dalam restoran sambil celingukan. Beberapa kali Nana membuka tas kecil yang menempel di bahu kiri. Jemarinya membuka ponsel cepat. Nihil. Tidak ada pesan maupun telepon. Ia mendengus. Dilemparnya ponsel ke dalam tas dan duduk di bangku panjang dekat restoran. 
"Baiklah. Beberapa menit saja"
***
          Jam sudah menunjukkan pukul 19.48. Masih tidak ada tanda munculnya seseorang yang ia kenal. Ia menyandarkan punggung -lagi- dan memukul-mukul pahanya. Sama sekali tidak muncul amarah dalam benaknya. Kerinduan yang mereka pendam sanggup menutupi seluruh emosi yang mendesak. Kecuali rindu. Alunan musik Bossanova masih belum mau berhenti sampai seluruh pengunjung berhenti berdatangan. Tapi tidak segera. Sepertinya malam minggu masih setia mengirimkan berpuluh pasangan ke restoran ini. Badan Tian bergerak. Ia menyesap latte favoritnya. Apa dia lagi yang harus menghubungi Nana? Ah, bukan ide yang baik. Lebih baik ia menunggunya. Sampai Nana datang. Nana akan datang, batinnya.

***
          Sebal merudung pundak Nana. Ia menggeram perlahan. Matanya masih tertuju pada ponsel. Layar hitam itu tidak segera berubah berwarna. Hampir satu jam ia menunggu. 
"Masa gue lagi sih? Peka kek. Ga nelpon atau sms. Ih"
         Nana berdiri. Ia mengibas-ngibaskan tangan pada pakaiannya. Lalu berjalan menuju pintu masuk. Nana mencoba menarik napas panjang. Pintu terbuka. Pelayan restoran mempersilahkan masuk. Nana menangkap sosok tegap sedang memandanginya. Sejenak ia tidak bisa mengendalikan diri untuk memuji lelaki tersbut. Tampan sekali. Cocok mengenakan kemeja lengan pendek warna biru tua dengan corak burung berwarna putih. Rambutnya sedikit cepak mirip Afgan dan sepertinya ia melihat kumis tipis di atas bibir. Sungguh seksi. Pria itu tersenyum. Tubuh Nana merinding, darahnya berdesir. Ingin ia tertawa tapi pandai-pandai untuk menahan. Kakinya melangkah menuju meja Tian. Meja mereka. 

***
        Terdengar derit pintu terbuka. Tian menoleh. Wanita itu. Akhirnya. Alis Tian terangkat. Kagum. Gadisnya memang benar-benar berubah. Walaupun tidak secara drastis tapi sangat memesona. Kaki kecil itu terbungkus jeans abu-abu ditambah wedges biru tua. Lengkap dengan baju tanpa lengan warna krem kecoklatan dan tas kecil di pundak. Nana tetap terlihat cantik dengan rambut digerai tanpa hiasan sama sekali. Tian membiarkan diri terbuai oleh pandangan dihadapannya. Seulas senyum mengembang. Gadis itu menoleh padanya. Ah, Tian tersadar. Buru-buru ia merapikan diri dan posisi duduknya. Gadis itu berjalan mendekatinya. Dia mendekatiku, teriaknya dalam hati. 

***
"Boleh duduk?", tanya Nana. 
          Tian hanya mengangguk. Masih tidak percaya memang benar Nana yang duduk di kursi seberang. Napasnya sesak. Ya, Nana. 
"Nggg... Mau pesan apa?", Tian mulai bersuara.
"Terserah deh apa aja"
"Oh oke", seraya tangan Tian melambai pada seorang pelayan. Ia memesan dua nasi goreng cumi dan jus jambu favorit Nana. Tian kembali ke posisi duduk semula. Diam. Duh, salah mesen menu. Harusnya Sop Jamur. Tak sadar Tian menggeram.
"Kenapa?", wajah Nana berubah cemas.
"Oh engga", jawaban itu sedikit melegakan walaupun ada sedikit keganjilan. Nana yang cuek hanya mengiyakan dengan isyarat mengangkat alis. 
          Makanan datang. Mereka menikmati makan malam dalam diam. Hanya beberapa kali mereka beradu pandang dan akhirnya tersenyum satu sama lain. Makanan Nana habis duluan. Ia menyeruput jus jambu miliknya lalu menghela napas panjang. 
"Tian?", Nana membuka percakapan.  
"Apa?", jawab Tian sambil mengangkat muka. Ia menatap Nana sedikit tajam. Nana yang seperti ingin mengutarakan sesuatu menjadi ciut. 
"Ga jadi", Nana menggeleng.
"Kenapa?"
"Ga kenapa-kenapa"
"Apa siiiiih????", nada itu masih lembut tetapi ada sedikit penekanan dari mulut Tian.
"Engga kenapa-kenapa, Tian", jawab Nana tak kalah tegas.
"Kenapa sih suka bikin orang penasaran?", kali ini Tian mulai mempertegas kalimatnya.
            Nana membelalakkan mata. Ia tidak menyangka kekasihnya menjadi setegas ini.
"Siapa juga", Nana mulai tersulut emosinya.
"Ya, Lo"
"Apa sih ih!"
"Lo itu......", Tian menghentikan kalimatnya. Tangan kanan mengepal keras.
"Apa? Mau ngomong apa lo?"
"Gue mau..."
"Apa lo?? Apa??? Mau nyalahin gue lagi? Kenapa sih gue mulu yang ngalah? Kenapa ga Lo aja, hah? Capek gue lama-lama!!!", emosi Nana mengundang banyak perhatian pengunjung restoran hingga satpam akhirnya mempersilahkan mereka meninggalkan kursi. 
           Di luar restoran pertengkaran mereka masih belum juga usai. Bukan seperti di dalam restoran. Perang dingin. Tangan Tian meraih jemari Nana. Nana menyentakkannya seraya berdiri. Napasnya tersengal. 
"Mau lo apa sih? Belum cukup bikin malu di dalem? Belum cukup bikin gue sebel satu jam nunggu disini sendirian? Kurang puas hah?". Sebenarnya masih banyak yang ingin ia utarakan. Tapi tidak di sini, tidak di depan umum. Sekuat tenaga agar air matanya tidak jatuh. 
           Tian tercengang. Ia mengait tangan kanan Nana. Melingkarkan pada punggungnya. Merengkuh tubuh Nana dalam pelukan hangat. Pelukan itu yang Nana dan Tian rindukan. Pecah tangis Nana seketika. 
"Na, lo kenapa nunggu di sini sendirian? Kenapa lo ga masuk? Kenapa sayang?". Tangis Nana semakin menjadi. Tian membungkam tangis Nana dalam pelukannya. Membelai halus rambut kekasihnya. 
"Na, setelah gue tunggu hampir satu jam, gue kira lo ga bakal dateng. Gue kira lo ke acara ulang tahun temen lo dan lupa sama janji kita. Gue hampir desperate nungguin lo sendirian Na"
"Tapi kenapa lo ga nelpon gue? Kenapa gue yang harus ngabarin lo duluan?"
"Gue cuma ga pengen ganggu kesenangan lo, Na. Lagian kalau sibuk, lo ga akan lihat hp kan walaupun itu telpon penting?", ujar Tian setengah tertawa. Nana menyadarinya juga ikut tertawa dalam rengkuhan Tian. 
"Na, maafin gue. Setahun kita pacaran, gue jarang atau hampir ga pernah bilang sayang ke elo. Tapi lo wajib tau bahwa sayang gue ga mau cuma jadi label sayang di ponsel lo. Telpon gue, sms gue ga ada apa-apanya ketimbang sayang gue ke elo. Na? Lo masih idup kan?". Pertanyaan Tian membuat Nana tergelak. Cukup lama ia memeluk kekasihnya dan belum ingin melepas. Nana mencubit punggung Tian. Mereka tertawa bersama. Tian merapatkan pelukannya kembali. "Na, gue sayang sama elo"
            Nana tertawa sambil menangis haru. "Gue juga, Ti. Gue malu ngomong sayang ke elo. Kan gue cewe. Gue ga mau duluin lo sebagai cowo. Tapi elo ga pernah peka. Elo ga pernah bilang lo sayang gue padahal gue uda kodein lo. Gue capek, Ti"
"Maaf sayang, maaf"
          

Only You-Rhoma Irama

#NP: Cuma Kamu-Selfi ft. Saipul Jamil

      Mereka lagi asik cover lagunya bang Haji sekaligus mewakili apa yang sebenarnya ingin aku ungkapkan. Namun apa daya ketika saat itu datang, bibir ini beku. tidak bergerak sama sekali. otak ini mendadak mati rasa.

     Cuma kamu. Sementara ini atau bahkan bisa sampai nanti -aamiin- cuma kamu. Iya, kamu. Kamu yang masih stay on my heart lah pokoknya. Banyak yang hampir bisa membuatku tergoyah tapi tidak seekspresif waktu aku menyukaimu. Walaupun ekspresi itu tidak menyamai atau melebihi histerisku ketika melihat beberapa artis atau atlit seksi favoritku.

     Kamu. Iya, kamu -maaf bang dodit minjem kalimatnya bentar. Bersyukurlah aku masih bahagia ketika aku bertemu denganmu. Kamu harus tahu bahwa sedikit saja membuatku kecewa, aku berniat untuk menghentikan hubungan kita. Aku dan kamu. Jujur saja, saat ini aku berada di dalam sebuah labirin palsu berbentuk lingkaran yang tidak memiliki pintu keluar. Where should i go out? could i?

     Kamu. Ya, milo.

"LOVE" is



Banyak cara buat ngomong atau #kode sama gebetan dan pacar lo kalau lo sebenernya sayang sama dia. Uda ga jamannya simpen perasaan buat para wanita. Sekarang mah cowo cewe sama ajaaahhh. Ungkapkan sebelum terlambat. Biar lega, biar ga beban lagi. Lo ngerasa ga sih kalo nyimpen perasaan itu berat banget ketimbang dapet tugas dari dosen? Mau ngomong malu, tapi kalo ga diomongin gemes banget. Tergantung manusianya juga sih. Beberapa orang malah menikmati kegiatan menabung rasa sayang.

Bilang sayang ga mesti harus "aku sayang kamu". Bisa juga dengan lo bikin dia nyaman, do something that show just like "dear......". Asal jangan lakuin hal gila. Cinta emang bisa menutup segalanya. mata, mulut, bahkan hidung. Cinta emang ga rasional tapi perlakukan cinta dengan rasional. jangan lebay. Bilang "Sayang, kamu belahan jiwaku. separuh napasku. Ga bisa hidup tanpamu. Aku bisa mati kalau ga ada kamu. ga bisa makan kalau jauh dari kamu". Pas diputusin bunuh diri. Duh ga penting banget kan. Jumlah manusia di bumi ga cuma dua kan ya. Ga pake logika namanya. Tuhan itu tahu semua yang pasti buat kita. Kalau kita memang terpisah, itu salah satu rencana Tuhan. Tenang aja. Selagi usaha, sama doa juga.

Hmmhhh *deep breath out*. Tapi..... kalimat-kalimat umum penting ga penting sebagai penanda bahwa yang lo lakuin ke dia karena lo suka bahkan sayang sama dia. Yaaahhh, those are only words. but ya, menurut gue wajib diomongin. kenapa? Banyak cinta yang salah. Eh cinta ga pernah salah. orangnya yang salah. Ga sedikit remaja yang doing someone in love tapi cuma nganggep sahabat aja. Itu juga akibat karena cinta ga diomongin. Mungkin bagi pelaku itu biasa dia lakuin. Ke semua orang dia kaya gitu. Namanya cewe kan kadang suka kegeeran.

So, LOVE is............