Keramaian masih menyelimuti jalanan hingga saat ini. Lampu kuning menyinari setiap sudut kota yang hampir tertutup oleh gelap. Sesekali angin berhembus menggoyangkan lembar daun. Membelai rambut lurus sebahu milik Nana. Tangannya berusaha menutupi poni yang terbelah menjadi dua. Ia mempercepat langkahnya menuju restoran tempat Nana dan Tian -kekasihnya- bertemu. Sampai di lokasi, Nana merapikan diri. Ia melihat ke dalam restoran sambil celingukan. Beberapa kali Nana membuka tas kecil yang menempel di bahu kiri. Jemarinya membuka ponsel cepat. Nihil. Tidak ada pesan maupun telepon. Ia mendengus. Dilemparnya ponsel ke dalam tas dan duduk di bangku panjang dekat restoran.
"Baiklah. Beberapa menit saja"
***
Jam sudah menunjukkan pukul 19.48. Masih tidak ada tanda munculnya seseorang yang ia kenal. Ia menyandarkan punggung -lagi- dan memukul-mukul pahanya. Sama sekali tidak muncul amarah dalam benaknya. Kerinduan yang mereka pendam sanggup menutupi seluruh emosi yang mendesak. Kecuali rindu. Alunan musik Bossanova masih belum mau berhenti sampai seluruh pengunjung berhenti berdatangan. Tapi tidak segera. Sepertinya malam minggu masih setia mengirimkan berpuluh pasangan ke restoran ini. Badan Tian bergerak. Ia menyesap latte favoritnya. Apa dia lagi yang harus menghubungi Nana? Ah, bukan ide yang baik. Lebih baik ia menunggunya. Sampai Nana datang. Nana akan datang, batinnya.
***
Sebal merudung pundak Nana. Ia menggeram perlahan. Matanya masih tertuju pada ponsel. Layar hitam itu tidak segera berubah berwarna. Hampir satu jam ia menunggu.
"Masa gue lagi sih? Peka kek. Ga nelpon atau sms. Ih"
Nana berdiri. Ia mengibas-ngibaskan tangan pada pakaiannya. Lalu berjalan menuju pintu masuk. Nana mencoba menarik napas panjang. Pintu terbuka. Pelayan restoran mempersilahkan masuk. Nana menangkap sosok tegap sedang memandanginya. Sejenak ia tidak bisa mengendalikan diri untuk memuji lelaki tersbut. Tampan sekali. Cocok mengenakan kemeja lengan pendek warna biru tua dengan corak burung berwarna putih. Rambutnya sedikit cepak mirip Afgan dan sepertinya ia melihat kumis tipis di atas bibir. Sungguh seksi. Pria itu tersenyum. Tubuh Nana merinding, darahnya berdesir. Ingin ia tertawa tapi pandai-pandai untuk menahan. Kakinya melangkah menuju meja Tian. Meja mereka.
***
Terdengar derit pintu terbuka. Tian menoleh. Wanita itu. Akhirnya. Alis Tian terangkat. Kagum. Gadisnya memang benar-benar berubah. Walaupun tidak secara drastis tapi sangat memesona. Kaki kecil itu terbungkus jeans abu-abu ditambah wedges biru tua. Lengkap dengan baju tanpa lengan warna krem kecoklatan dan tas kecil di pundak. Nana tetap terlihat cantik dengan rambut digerai tanpa hiasan sama sekali. Tian membiarkan diri terbuai oleh pandangan dihadapannya. Seulas senyum mengembang. Gadis itu menoleh padanya. Ah, Tian tersadar. Buru-buru ia merapikan diri dan posisi duduknya. Gadis itu berjalan mendekatinya. Dia mendekatiku, teriaknya dalam hati.
***
"Boleh duduk?", tanya Nana.
Tian hanya mengangguk. Masih tidak percaya memang benar Nana yang duduk di kursi seberang. Napasnya sesak. Ya, Nana.
"Nggg... Mau pesan apa?", Tian mulai bersuara.
"Terserah deh apa aja"
"Oh oke", seraya tangan Tian melambai pada seorang pelayan. Ia memesan dua nasi goreng cumi dan jus jambu favorit Nana. Tian kembali ke posisi duduk semula. Diam. Duh, salah mesen menu. Harusnya Sop Jamur. Tak sadar Tian menggeram.
"Kenapa?", wajah Nana berubah cemas.
"Oh engga", jawaban itu sedikit melegakan walaupun ada sedikit keganjilan. Nana yang cuek hanya mengiyakan dengan isyarat mengangkat alis.
Makanan datang. Mereka menikmati makan malam dalam diam. Hanya beberapa kali mereka beradu pandang dan akhirnya tersenyum satu sama lain. Makanan Nana habis duluan. Ia menyeruput jus jambu miliknya lalu menghela napas panjang.
"Tian?", Nana membuka percakapan.
"Apa?", jawab Tian sambil mengangkat muka. Ia menatap Nana sedikit tajam. Nana yang seperti ingin mengutarakan sesuatu menjadi ciut.
"Ga jadi", Nana menggeleng.
"Kenapa?"
"Ga kenapa-kenapa"
"Apa siiiiih????", nada itu masih lembut tetapi ada sedikit penekanan dari mulut Tian.
"Engga kenapa-kenapa, Tian", jawab Nana tak kalah tegas.
"Kenapa sih suka bikin orang penasaran?", kali ini Tian mulai mempertegas kalimatnya.
Nana membelalakkan mata. Ia tidak menyangka kekasihnya menjadi setegas ini.
"Siapa juga", Nana mulai tersulut emosinya.
"Ya, Lo"
"Apa sih ih!"
"Lo itu......", Tian menghentikan kalimatnya. Tangan kanan mengepal keras.
"Apa? Mau ngomong apa lo?"
"Gue mau..."
"Apa lo?? Apa??? Mau nyalahin gue lagi? Kenapa sih gue mulu yang ngalah? Kenapa ga Lo aja, hah? Capek gue lama-lama!!!", emosi Nana mengundang banyak perhatian pengunjung restoran hingga satpam akhirnya mempersilahkan mereka meninggalkan kursi.
Di luar restoran pertengkaran mereka masih belum juga usai. Bukan seperti di dalam restoran. Perang dingin. Tangan Tian meraih jemari Nana. Nana menyentakkannya seraya berdiri. Napasnya tersengal.
"Mau lo apa sih? Belum cukup bikin malu di dalem? Belum cukup bikin gue sebel satu jam nunggu disini sendirian? Kurang puas hah?". Sebenarnya masih banyak yang ingin ia utarakan. Tapi tidak di sini, tidak di depan umum. Sekuat tenaga agar air matanya tidak jatuh.
Tian tercengang. Ia mengait tangan kanan Nana. Melingkarkan pada punggungnya. Merengkuh tubuh Nana dalam pelukan hangat. Pelukan itu yang Nana dan Tian rindukan. Pecah tangis Nana seketika.
"Na, lo kenapa nunggu di sini sendirian? Kenapa lo ga masuk? Kenapa sayang?". Tangis Nana semakin menjadi. Tian membungkam tangis Nana dalam pelukannya. Membelai halus rambut kekasihnya.
"Na, setelah gue tunggu hampir satu jam, gue kira lo ga bakal dateng. Gue kira lo ke acara ulang tahun temen lo dan lupa sama janji kita. Gue hampir desperate nungguin lo sendirian Na"
"Tapi kenapa lo ga nelpon gue? Kenapa gue yang harus ngabarin lo duluan?"
"Gue cuma ga pengen ganggu kesenangan lo, Na. Lagian kalau sibuk, lo ga akan lihat hp kan walaupun itu telpon penting?", ujar Tian setengah tertawa. Nana menyadarinya juga ikut tertawa dalam rengkuhan Tian.
"Na, maafin gue. Setahun kita pacaran, gue jarang atau hampir ga pernah bilang sayang ke elo. Tapi lo wajib tau bahwa sayang gue ga mau cuma jadi label sayang di ponsel lo. Telpon gue, sms gue ga ada apa-apanya ketimbang sayang gue ke elo. Na? Lo masih idup kan?". Pertanyaan Tian membuat Nana tergelak. Cukup lama ia memeluk kekasihnya dan belum ingin melepas. Nana mencubit punggung Tian. Mereka tertawa bersama. Tian merapatkan pelukannya kembali. "Na, gue sayang sama elo"
Nana tertawa sambil menangis haru. "Gue juga, Ti. Gue malu ngomong sayang ke elo. Kan gue cewe. Gue ga mau duluin lo sebagai cowo. Tapi elo ga pernah peka. Elo ga pernah bilang lo sayang gue padahal gue uda kodein lo. Gue capek, Ti"
"Maaf sayang, maaf"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar